Sabtu, 26 Desember 2009

Bahasa Jawa sebagai aset budaya daerah

Dipublikasi pada Saturday, 17 November 2007 oleh denmasgoesyono
KONDISI bahasa-bahasa daerah di Indonesia sebagai bagian dari budaya daerah nusantara sekarang ini semakin terdesak oleh perkembangan zaman dan teknologi informasi. Tidak kalah penting yang perlu perhatian khusus, terutama pada tataran golongan muda.
Namun dengan munculnya kebijakan Gubernur Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur untuk memasukkan bahasa Jawa dalam mutan lokal pada pendidikan SD, SMP, dan SMA menjadi angin segar bagi bahasa Jawa khususnya untuk berkembang. Sekarang tergantung kita, mau diapakan,dan bagaimana cara mengajarkan, menanamkan, dan mengembangkan filosofi bahasa daerah kepada anak didik kita sebagai generasi penerus, sehingga eksistensi bahasa daerah dalam kerangka budaya di era teknologi informasi tetap maju dan berkembang seiring dengan perkembangan zaman.

Dalam pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra Jawa, kita memiliki dua landasan yang fundamental. Pertama, ikrar butir ketiga Sumpah Pemuda 28 Oktober 1928, bahwa “Kami putera dan puteri Indonesia menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”. Dengan kategori “menjunjung bahasa persatuan, bahasa Indonesia”, terkandung makna bahwa bahasa daerah termasuk bahasa Jawa memiliki hak hidup yang sama dengan bahasa Indonesia. Kedua, penjelasan Pasal 36 UUD 1945 menyatakan bahwa “Di daerah-daerah yang mempunyai bahasa sendiri yang dipelihara oleh rakyatnya dengan baik-baik misalnya (bahasa Jawa, Sunda, Madura, dll), bahasa-bahasa itu akan dihormati dan dipelihara juga oleh negara.

Sesuai dengan landasan tersebut, bahasa Jawa sebagai bahasa daerah di Indonesia yang terbanyak penuturnya memiliki hak sepenuhnya untuk dihormati dan dipelihara oleh negara. Oleh karena itu, perlu dipikirkan upaya pembinaan dan pengembangan bahasa dan sastra Jawa di era teknologi dan informasi yang semakin memprihatinkan perkembangannya.

Pertanyaannya kemudian adalah; siapa yang bertanggung jawab melestarikan eksistensi bahasa dan budaya daerah kita? Guru bahasa daerah, pemerintah daerah, atau orangtua? Jawabnya tentu saja tidak boleh saling tunjuk satu dengan yang lain tetapi bagaimana upaya kita secara bergotong-royong untuk melestarikan dan mengembangkan bahasa dan budaya daerah untuk generasi penerus dan mempersiapkan SDM yang profesional dalam bidang bahasa dan budaya daerah. Eksistensi bahasa daerah Kedudukan bahasa Jawa bagi sebagian masyarakat Jawa merupakan bahasa pertama. Pernyataan itu dapat ditafsirkan bahwa bahasa Jawa masih merupakan alat komunikasi yang efektif di lingkungan keluarga bahkan di masyarakat luas.

Perlu disadari bahwa frekuensi pemakaian bahasa Indonesia yang makin tinggi di berbagai aspek kehidupan masyarakat dan menjangkau wilayah pemakaian bahasa semakin luas, mengakibatkan wilayah pemakaian bahasa Jawa semakin berkurang. Pertemuan yang dulu menggunakan bahasa pengantar bahasa Jawa berangsur-angsur beralih dengan pengantar bahasa Indonesia. Bahasa Jawa saat ini juga semakin “dijauhi” oleh generasi muda.

Meskipun dalam kehidupan sehari-hari mereka masih menggunakan bahasa Jawa, dalam lingkungan yang menghendaki penggunaan bahasa Jawa krama mereka tidak semuanya dapat melakukan dengan baik. Banyak faktor yang menyebabkan mengapa mereka menjadi seperti itu. Di lingkungan keluarga sendiri mereka tidak biasa menggunakan bahasa Jawa dengan benar, di sekolah mereka hanya mendapat pelajaran bahasa Jawa yang terbatas, dalam masyarakat luas mereka melihat kenyataan bahwa bahasa Jawa tidak lagi digunakan dalam aspek kehidupan masyarakat Jawa.

Seidentifikasi Dilihat dari kosakatanya, bahasa Jawa telah mengalami perkembangan yang pesat. Banyak kata baru yang masuk dalam bahasa Jawa, baik yang berasal dari bahasa Indonesia maupun yang berasal dari bahasa lainnya. Masuknya kata baru seperti itu merupakan hal yang wajar dalam bahasa yang masih hidup seperti bahasa Jawa. Merupakan hal yang aneh bila terdapat sebuah bahasa yang kosakatanya tidak bertambah sama sekali dari waktu ke waktu, kecuali bahasa yang sudah mati.

Namun, pemekaran kosakata bahasa Jawa yang cepat telah menimbulkan keprihatinan bagi mereka yang berpegang pada keinginan akan kemurnian bahasa Jawa. Masyarakat penutur bahasa Jawa adalah masyarakat dwibahasawan, yang dalam kehidupan sehari-harinya menggunakan bahasa Jawa dan bahasa Indonesia secara bergantian atau bersamaan. Kondisi itu memberikan kemungkinan yang besar terhadap masuknya kata dari bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jawa dan sebaliknya. Hal itu didukung oleh besarnya peranan bahasa Indonesia dalam kehidupan sehari-hari masyarakat Jawa.

Media massa yang menggunakan bahasa Indonesia pun lebih mudah dan lebih menjangkau seluruh lapisan masyarakat penutur bahasa Jawa daripada media massa yang menggunakan bahasa Jawa, sehingga sangat mudah dipahami apabila dalam bahasa Jawa banyak terlihat kata yang bersal dari bahasa Indonesia. Masuknya kata-kata bahasa Indonesia ke dalam bahasa Jawa menjadi semakin terbuka. Bahasa Indonesia sendiri sebagai bahasa pemberi mengalami pemasukan kata dari bahasa asing. Kata-kata asing yang menjadi kosakata bahasa Indonesia itu sebagian terserap ke dalam bahasa Jawa. Semuanya akan memperkaya kosakata bahasa Jawa.

Sebagian dari kata-kata bahasa Indonesia yang masuk ke dalam bahasa Jawa semakin mantap penggunaannya dan justru dapat menggeser pemakaian beberapa kata bahasa Jawa sendiri. Misalnya, kata pendidikan, penduduk, keluarga, hadiah, dan pemenang. Kata-kata seperti itu sulit atau tidak selalu dapat digantikan oleh kata-kata bahasa Jawa yang sudah ada. Kata-kata lain yang berasal dari bahasa asing pun mengalami hal seperti itu. Misalnya, kata transmigrasi, imunisasi, donor, target, dan kredit. Kata-kata semacam itu memang sulit digantikan oleh kata bahasa Jawa dan ada pula yang tidak perlu diganti atau diterjemahkan ke dalam bahasa Jawa.

Uraian di atas memberikan gambaran tentang betapa mudah dan pesatnya pemekaran kosakata bahasa Jawa saat ini dengan cara penyerapan. Akibat penyerapan kata itu, bahasa Jawa dalam bidang kosakata akan menemukan wajahnya yang selalu bergerak dari waktu ke waktu, sehingga keberadaan bahasa Jawa sebagai bahasa yang masih terikat oleh budaya Jawa, dihadapkan kepada kenyataan yang menantang masa depannya.

Sumber:
http://www.ngapak.com/portal/modules.php?name=News&file=article&sid=474

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar