Sabtu, 26 Desember 2009

Ratapan dan Harapan Pelajaran Muatan Lokal Bahasa Biak di Resort Biak-Numfor

Posted on Desember 15, 2008 by pondokbahasa

AbstrakBahasa Biak (BB) adalah salah satu bahasa daerah(BD) yang pertama kali diteliti, ditulis dan diajarkansecara formal sebagai pelajaran muatan lokal (mulok)oleh para misionaris pada pendidikan dasar danmenengah di Resort Biak-Numfor Tanah Papua. OrangBiak selalu meratapi dan merindukan pelajaran mulokBB tersebut hingga saat ini. Oleh karena dimusnahkandan tidak diperbolehkan untuk diajarkan lagi olehpemerintah, karena konspirasi politik pada tahun 1963yang berlanjut sampai dengan Kurikulum Tingkat SatuanPendidikan (KTSP) yang kemungkinan dapat memberikanangin segar dan harapan hidup bagi BB dan BD tertentudi Tanah Papua.
BB ditentukan oleh Zending Belanda sebagai pelajaranmulok BD berdasarkan fakta historis, akademis,dan dasar hukum yang kuat. Sebab itu, diharapkankewenangan pemerintah Indonesia (gubernur, bupati/walikota) untuk segera membina dan mengembangkannyadengan mengintegrasikan tujuan dan filosofi mulok duludengan sekarang. Untuk itu, pemerintah daerah perlumenyiapkan buku-buku bahan pelajaran mulok BB,sekaligus melatih para pengajar BB/BD, serta bagaimanacara mengajarkan mulok dimaksud sesuai denganpanduan KTSP dan standar isi 2006, agar tercapai tujuanpendidikan nasional yang diharapkan di Indonesia.

1. Pembuka

Patut kita mengucap syukur kepada Tuhan Yang Maha Baikkarena melalui Kongres IX Bahasa Indonesia bertaraf internasionaldalam rangka memperingati 100 Tahun Emas Kebangkitan Nasionaldan 80 Tahun Sumpah Pemuda serta 60 Tahun Umur Pusat Bahasa(dirgahayu), panitia kongres masih menyelipkan sebuah topik tentang“Pemilihan Bahasa Daerah sebagai Muatan Lokal dalam PendidikanFormal” yang melahirkan formulasi judul makalah ini. Sebab itu,melalui kongres akbar ini perlu diberikan apresiasi dan acungan jempolyang tinggi bagi Kepala Pusat Bahasa dan seluruh stafnya, karena tidakhanya menggencarkan bahasa nasional NKRI agar digunakan denganbaik dan benar oleh rakyat Indonesia di seluruh pelosok Nusantara(Sabang-Merauke). Akan tetapi, Pusat Bahasa juga terus-menerusmendorong perlunya pembinaan dan pengembangan BD sebagaifondasi bagi bahasa Indonesia (BI) yang ikut membentuk insanIndonesia yang cerdas kompetitif dan sebagai bahasa pengantar, mulaidari jenjang pendidikan dasar dan menengah agar tidak terjadikepunahan berbagai BD, gudang keanekaragaman etnosains danbudaya bangsa Indonesia.
Atas usaha Pusat Bahasa dan ratapan masyarakat adat dikampung-kampung yang begitu keras terhadap pemerintah dan para elitIndonesia, baru menyadari dosanya dan saat ini kembali berpikir untukmenegakkan panji dan jiwa kebinekatunggalikaan Pancasila melaluipelajaran mulok KTSP berstandar isi 2006. Rupanya ratapan dan isaktangisitu pun mengagetkan Depdiknas dari tidurnya dan barumenyadari bahwa politik dominasi budaya selama ini telah mematikankeanekaragaman budaya Indonesia yang lain, melalui berbagai media,buku pelajaran, maupun bentuk konspirasi lainnya. Perlu disadaribahwa dominasi budaya tersebut kurang memberikan akses bagiberbagai BD di Indonesia, termasuk keanekaragaman BD di TanahPapua untuk dibina dan dikembangkan sebagai bahan pelajaran mulokbagi para peserta didik di lingkungannya. Sebab itu, tak salah jualahorang Papua mengumpetkan “Sia-sialah upaya bangsa Indonesia dalampembinaan dan pengembangan keanekaragaman BD di Tanah Papua,sejak orang Papua berada dalam pangkuan NKRI tahun 1963 hinggasaat ini, jika dibandingkan dengan zaman zending dulu.”

Sesungguhnya pelajaran mulok dalam KTSP yang saat inidigiatkan dan diajarkan pada jenjang pendidikan dasar dan menengah diIndonesia, bukanlah suatu hal yang baru di Tanah Papua (New Guineadulu) sebagaimana pelajaran bahasa Jawa, Sunda, Madura, dan bahasaBali yang diajarkan pada pendidikan dasar dan menengah sejak duluhingga saat ini. Khusus untuk Tanah Papua, bahan pelajaran mulokyang mirip dengan KTSP saat ini, pernah dibuat oleh Domine F. J. F.van Hasselt, I.S. Kijne, serta para misionaris lainnya yang bergabungdalam Yayasan Pekabaran Injil Zending Belanda. Mereka meneliti danmenulis buku pelajaran mulok, serta melatih para guru pribumi, sertaguru bantuan dari Ambon dan Sanger untuk mengajarkan mulokberbasis budaya dan lingkungan alam Papua sejak tahun 1940-ansampai dengan tahun 1962.

Akan tetapi, sejak Tanah Papua dianeksasi ke pangkuan NKRIsemua buku pelajaran bahasa dan sastera daerah (pelajaran muatanlokal) tersebut dibeslak dan dibakar secara masal oleh para petugaspemerintah Indonesia pada tahun 1963 dan selanjutnya tidak diperbolehkanuntuk dipakai atau disimpan oleh siapa pun. Oleh karenabuku-buku pelajaran mulok bahasa Melayu (BM), bahasa Biak (BB),dan bahasa Belanda (BBl) tersebut dipolitisir atau dianggap berbauhpolitik (Rumbrawer, 2000, 2001, 2007; Alwi, dkk. (Ed), 2000).

Tindakan seperti ini bertentangan dengan Pancasila dan penjelasanpasal 36 dalam UUD 1945 yang mennyatakan bahwa “Di daerah-daerahyang mempunyai bahasa sendiri, yang dipelihara oleh rakyatnya denganbaik-baik (misalnya: bahasa Jawa, Sunda, Madura, dan sebagainya),bahasa-bahasa itu akan dihormati dan dipelihara juga oleh negara.Bahasa-bahasa itu pun merupakan sebagian dari kebudayaan Indonesiayang hidup.

Orang Papua menganggap tindakan tak manusiawai ini sebagaisalah satu kesalahan besar yang pernah dilakukan para petugaspemerintah saat itu. Hal ini bertentangan dengan Pancasila danpenjelasan Pasal 36 UUD 1945. Sebab, jika kita pelajari aneka bukupelajaran mulok tersebut, tak ada satu pun mengandung politik, tetapibuku-buku yang disusun secara tematis oleh para misionaris tersebut,disesuaikan dengan lingkungan para murid agar mereka belajar tentanglingkungan budaya, lingkungan alam, dan kearifan lokal seperti,etnolinguistik, etnomatematik, etnobiologi (etnobotani, etnozoologi,etnohuman, etnoekologi, etnokonservasi), dan etnosains lainnya, sesuaidengan tema-tema pokok yang ditentukan dalam kurikulum dan silabuspendidikan dasar dan menengah saat itu. Sehingga para muridmempunyai pengetahuan dasar untuk menghormati Tuhan, mengasihisesama, dan menjaga seluruh alam ciptaan-Nya, sekaligus melestarikanbahasa dan budayanya secara berkelanjutan.

Sesuai dengan arahan tema, topik, dan judul yang diformulasidari topik dan kerangka yang sengaja diberikan Panitia Kongres IXBahasa Indonesia bertaraf internasional ini, maka makalah ini diberikanjudul “Ratapan dan Harapan Pelajaran Muatan Lokal (Mulok) BahasaBiak di Resort Biak-Numfor. Dengan demikian pendahuluan makalahini mengemukakan latar dan masalah mengapa BB perlu diangkatmenjadi pelajaran mulok; selanjutnya membicarakan dasar (historis,akademik, dan dasar hukum) pemilihan mulok BB; tujuan dan filosofipemilihannya; bahan mulok; para pengajar (guru); serta bagaimanamengajar BB; dan diakhiri dengan simpulan dan saran.

2. Dasar Pemilihan Mulok Bahasa Biak

Alasan dasar yang menentukan BB dipilih menjadi pelajaranmulok, pada pendidikan formal jenjang pendidikan dasar danmenengah di Resort Biak-Numfor pada zaman zending, berdasarkantiga alasan penting, yaitu: dasar historis, akademis, dan dasar hukumsebagai berikut.

2.1 Dasar Historis

Berdasarkan ulasan historis yang termuat dalam catatan etnografipara zendeling Jerman-Belanda, dan para petugas kolonial tempo dulubahwa etnik Biak (orang Biak) adalah satu-satunya etnik di NewGuinea (Tanah Papua) yang telah lama berkomunikasi dengan bahasaMelayu, masyarakatnya monolingual, dan relatif maju, jika dibandingkandengan saudara-saudara etnik Papua lainnya. Orang Biak majudalam etnomatematik, etnobiologi, etnofalak (astronomi) dan maju puladalam dunia kemaritiman dan perdagangan tempo dulu. Orang Biakgemar berkelana dan selain menggunakan BB, BM diandalkan pulasebagai alat komunikasi. Hal ini memudahkan orang Biak dapatmencapai dan menduduki sejumlah daerah yang amat jauh, didukungarmada-armada bercadik yang lengkap dengan pasukan ampibinya.Bahasa Melayu telah lama digunakan dalam pelayaran perang,perdagangan, dan pembayaran upeti kepada Kerajaan Majapahitmelalui Kesultanan Tidore. Sehingga, bahasa Biak pun tersebar luasdan melinguafranca mengikuti lokasi pemukiman yang ditempati orangBiak, baik di beberapa tempat di kawasan Nusantara maupun melintasbatas ke luar negeri. Sebagai bukti tentang daerah/wilayah yangdidiami orang Biak , antara lain:
(a) Luar Negeri, orang-orang Biak yang berada di pulau Palau –sebuah negara kecil di Pasifik; beberapa perkampungan diSamarai Papua New Guinea (PNG); referensi lain mengisahkanbahwa orang Biak pernah sampai di Madagaskar. Hal inidiperkuat juga oleh riset arheologi di Solo Jawa Tengah yangmembuat pernyataan ilmiah bahwa fosil manusia purba yangdijumpai di pulau Jawa yang dikenal dengan nama soloensis ituadalah fosil orang hitam (orang Papua/mungkin orang Biak) yangpertama kali pernah mendiami Tanah Jawa pada zaman purbadulu sebelum orang-orang Asia memasuki kawasan Nusantara.
(b) Dalam wilayah NKRI: komunitas orang Biak dapat dijumpai disejumlah perkampungan besar, antara lain mulai dari: ProvinsiMaluku Utara (Tobelo); Provinsi Papua Barat (Kabupaten RajaAmpat, Kabupaten Sorong, Kabupaten Manokwari, danKabupaten Teluk Wondama); Selanjutnya di Provinsi Papua(Kabupaten Biak-Numfor; Kabupaten Supiori; pesisir utara pulauYapen Kabupaten Yapen Waropen; Kabupaten Nabire; KepulauanKumamba Kabupaten Sarmi; Kabupaten MamberamoRaya; dan Abepantai Kotamadya Jayapura (Mampioper, 1976;1986).

2.2 Dasar Akademik

Berdasarkan pengelompokan bahasa-bahasa daerah di Indonesia,khususnya keanekaragaman bahasa daerah di Tanah Papua telahdiklasifikasikan atas dua bagian besar, yaitu rumpun bahasa Papua(non-Austronesia) dan rumpun Austronesia.BB termasuk rumpun bahasa Austronesia, dan strukturbahasanya secara akademik mudah dipelajari, baik fonologi, morfologi,sintaksis, dan wacananya pun mudah dipelajari. Sehingga Domine F. J.F. van Hasselt dan I.S. Kijne menjadikannya sebagai pelajaran mulokbahasa daerah (BD) yang resmi diajarkan di sekolah formal yangdidirikan oleh Zending Belanda di Resort Biak-Numfor. Pemilihan inijuga didasarkan atas kemonolingualan masyarakat Biak. Sedangkansekolah-sekolah formal yang lain di Tanah Papua, muloknyadiintegralkan dalam pelajaran bahasa Melayu dan bahasa Belanda,karena masyarakatnya multilingual.

Sebab itu, pelajaran mulok di Tanah Papua dibagi oleh paramisionaris atas tiga bagian, yaitu pelajaran: (1) mulok bahasa daerahBiak diajarkan di Resort Biak-Numfor; (2) ada mulok yangdiintegralkan dalam bahasa Melayu; dan hal ini juga berlaku dalamBahasa Belanda, sesuai dengan perkembangan umur anak dan tingkatsatuan pendidikan berbasis budaya orang Papua dan lingkungan paramurid saat itu.

Barangkali dasar seperti inilah yang menguatkan bahasa dansastera Biak ditetapkan para misionaris Zending Belanda sebagaipelajaran mulok, yang dapat diajarkan secara resmi pada sekolahformal, yakni pendidikan dasar dan menengah di Resort Biak-Numfor(Kabupaten Biak-Numfor dan Kabupaten baru Supiori sekarang ini)berdampingan dengan pelajaran bahasa Melayu, bahasa Belanda, danmata pelajaran lainnya.

2.3 Dasar Hukum

• Undang-Undang Dasar RI 1945 pada penjelasan pasal 36,menandaskan bahwa ”Di daerah-daerah yang mempunyai bahasasendiri, yang dipelihara oleh rakyatnya dengan baik-baik (misalnyabahasa Jawa, Sunda, Madura, dan sebagainya) bahasa-bahasa ituakan dihormati dan dipelihara juga oleh negara. Bahasa-bahasa itupun merupakan sebagian dari kebudayaan Indonesia yang hidup;
• Undang-Undang Nomor 2 Tahun 1989, Pasal 42, Ayat (1)mengemukakan juga bahwa bahasa daerah dapat digunakansebagai bahasa pengantar dalam tahap awal pendidikan dan sejauhdiperlukan dalam penyampaian pengetahuan dan atau keterampilantertentu;
• Undang-Undang Nomor 22 Tahun 1999 tentang PemerintahanDaerah;
• Peraturan Pemerintah Nomor 25 Tahun 2000, mengatur pembagiankewenangan antara Pemerintah Pusat dan Pemerintah Daerah,mengemukakan bahwa pembinaan dan pengembangan bahasa dansastera daerah termasuk ke dalam kewenangan Pemerintah Daerah(Provinsi, Kabupaten/Kota (Alwi, 2000 : 1– 2);
• Sambutan Menteri Pendidikan Nasional pada pembukaanKonferensi Bahasa Daerah Nasional II, 6–8 November 2000mengemukakan bahwa “Kehidupan bahasa dan sastera daerahyang dijamin UUD 1945 selama dipelihara pemakainya di dalamkerangka Otonomi Daerah akan memperoleh peluang yang lebihterbuka untuk dikelolah dengan lebih baik, asal Pemerintah Daerah(Pemda) yang bersangkutan memiliki perhatian yang besar. Untukitu Mendiknas mengharapkan agar setiap Asisten III bidang Kesrayang mewakili Pemda pada Kongres Bahasa Daerah II harusmemberikan perhatian dan sumbangan yang besar dan terencanabagi masyarakat pencinta dan pendukung bahasa dan sasteradaerah dengan memasukkan program pembinaan dan pengembanganbahasa dan sastera daerah dalam program Pemda dengansungguh-sungguh” (Muhaimin, 2000:1). Hasil Kongres BahasaDaerah Naional II di Jakarta, 6 – 8 November 2000 itumerumuskan dan merekomendasikan tentang pemasyarakatan danpembinaan bahasa dan sastera daerah di Indonesia sesuaikebutuhan daerah otonomi masing-masing;
• Undang-Undang RI Nomor 21 Tahun 2001 tentang OtonomiKhusus bagi Provinsi Papua, Pasal 58, Ayat (1) menyatakan bahwaPemerintah Provinsi berkewajiban membina, mengembangkan,dan melestarikan keragaman bahasa dan sastera daerah untukmempertahankan jati diri orang Papua; dan pada pasal (3)menyatakan pula bahwa bahasa daerah dapat digunakan sebagaibahasa pengantar di jenjang pendidikan dasar sesuai dengankebutuhan;
• Undang-Undang RI Nomor 20 Tahun 2003 tentang SistemPendidikan Nasional Pasal 37 Ayat (1) dan Pasal 38 Ayat (2);
• Peraturan Pemerintah RI Nomor 19 Tahun 2005 tentang StandarNasional Pendidikan yang mencakup (1) kerangka dasar danstruktur kurikulum yang menjadi pedoman penyusunan KTSP; (2)beban belajar bagi peserta didik pada satuan pendidikan dasar danmenengah; (3) KTSP yang akan dikembangkan oleh satuan pendidikanberdasarkan panduan penyusunan kurikulum sebagai bagiantidak terpisahkan dari standar isi; dan (4) kalender pendidikan yangdikeluarkan dinas pendidikan setempat (Direktorat PembinaanSekolah Menengah Depdikans, 2008 : 3 – 4).

Mengacu pada sejumlah dasar hukum yang dikemukakan di atasmaka masalah pembinaan dan pengembangan bahasa dan sasteradaerah Biak (sastera lisan) menjadi kewenangan dan tanggung jawabPemerintah Daerah Kabupaten Biak-Numfor maupun PemerintahDaerah Provinsi Papua. Namun demikian selama ini Pemda Biak-Numfor maupun Pemda Supiori belum serius melaksanakan tugaspembinaan dan pengembangan BB hingga saat ini.

3. Tujuan dan Filosofi Mulok Bahasa Biak

Tujuan utama Zending Belanda membuat penelitian danpenulisan bahan pelajaran mulok bahasa daerah (BB, BM, BBl),membaca, menulis dan berhitung permulaan (matematika dasar),pertanian, pertukangan, kesehatan, serta ilmu pengetahuan lainnyauntuk pembentukan ahlak dan pengetahuan kognitif, afektif danpsikomotor anak-anak Papua agar segera menerima peradaban baru.

Oleh karena itu, tujuan Zending melaksanakan pelajaran mulok diTanah Papua tempo dulu adalah agar: mempercepat terserapnya visimisipenginjilan (pembangunan semesta) untuk mengubah tabiat dantingkah laku manusia Papua yang saat itu masih berada dalam zamankegelapan. Hidup dalam permusuhan, peperangan, pengayauan, danbentuk-bentuk kekafiran lainnya, supaya memasuki budaya danperadaban baru, yang penuh damai sejahtera, saling mengasihi danbekerja sama di segala bidang pembangunan.

Meskipun pekerjaan para misionaris itu mahaberat di TanahPapua tempo dulu, namun visi-misi penginjilan yang menjadi tujuanmaupun prioritas kerja utamanya adalah:(1) menyelenggarakan pendidikan dasar di seluruh Tanah Papua.Sekolah Dasar Kristen pertama berbahasa daerah (Numfor-Biak)dan bahasa Melayu dibuka di pulau Mansinam Manokwari tahun1856 oleh Ottow dan Geissler –dua orang pemuda berkebangsaanJerman yang menjadi rasul pertama bagi orang Papua– (Ottow,1962). Setelah Mansinam Manokwari, misi pekabaran Injil beralihke daerah Resort Biak-Numfor dan masuk di Maudori Supiori olehF.J.F. van Hasselt dan guru Petrus Kafiar, 26 April 1908 makaterjadilah pembukaan sekolah dasar berbahasa Biak secara masaldi tiap kampung di Resort Kepulauan Biak-Numfor;(2) membuat kurikulum berbasis lingkungan budaya lokal danlingkungan murid setempat, menyusun silabus bahan pelajaranmulok berbahasa Biak, bahasa Melayu, dan bahasa Belanda yangdigunakan pada pendidikan dasar dan menengah (sekolah rakyatsejenis SD, SMP, SPGJ berasrama) di beberapa wilayah tertentusebagai pusat pendidikan, agar memudahkan para murid memasukisekolah peradaban tersebut (Kamma, 1994 : 163).(3)Falsafah dasar bagi para misionaris untuk bertekad dalampembinaan dan pengembangan BD sebagai kiat pembangunan semestadi Tanah Papua, secara jelas dicatat atau diabadikan dalam 5 buahpernyataan berikut, bahwa:
(a) bahasa daerah di Tanah Papua adalah kunci/pintu masuk ke dalamaneka relung hidup adat, kebersahajaan, tingkah laku, dan baikburuknyahati orang Papua;
(b) mengajar dengan bahasa ibu anak-anak setempat, akan membukadan meningkatkan pengetahuan anak yang telah tersedia secaralokal untuk menampung dan menerima ilmu pengetahuan asing(modern) dengan harmoni, serasi dan selaras dengan budaya paramurid, sehingga tidak terjadi penolakan (diskualifikasi);
(c) mengajar dengan bahasa daerah para murid, akan mengawetkan danmeningkatkan rasa kebanggaan dan harga diri anak untukmenghadapi budaya asing atau modern;
(d) mengajar dan belajar dengan BB akan mengabadikan berbagaimacam kearifan lokal (etnosains) penentu hidup para murid masadepan, berarti ikut melestarikan budaya bangsa sampai ke anak cucuturun-temurun;
(e) bahasa ibu (bahasa daerah) adalah grace (anugerah Tuhan). Sebabitu, jikalau: berhotbah, mengajar, berpidato, ataupun menyampaikanpesan Injil dan pesan pemerintah (pembangunan) dengan bahasamasyarakat setempat, akan membuka dan memuluskan jalan Injildalam berbagai aspek pembangunan dengan mudah sehingga segeratercapai cita-cita nasional sebuah bangsa (van Hasselt, 1919). Atasdasar pikiran mulia dan sejumlah tujuan praktis tersebut di atas, BBsebagai BD pertama yang diperjuangkan dan digunakan oleh paramisionaris, antara lain: F.J.F. van Hasselt, Petrus Kafiar, WillemRumainum, dan selanjutnya diteruskan oleh Domine I.S. Kijnesebagai sebuah proyek perintis pertama penggunaan BD (bahasaibu) sebagai bahasa pengantar dalam proses belajar dan mengajar(PBM) dan pelajaran mulok bagi anak-anak sekolah dan jemaatjemaatpertama di Resort Kepulauan Biak-Numfor Tanah Papuatempo dulu.

Alhasilnya, dalam waktu yang relatif singkat, orang Biak majupesat dalam pendidikan dan bidang lainnya. Sebagian besar orang Biakmenjadi pegawai dan menduduki berbagai jabatan, baik jabatantertinggi di gereja maupun pemerintah. “Salah satu bukti historiskeberhasilan para misionaris dalam menggunakan BB sebagai pelajaranmulok dan bahasa pengantar di sekolah pada pertengahan abad ke-20 –awal abad ke-21 dapat kita saksikan banyak anak Tuhan dari wilayahini telah berhasil menamatkan pendidikan di berbagai jenjang (SekolahDasar – Perguruan Tinggi) dan menduduki berbagai jabatan pentingseperti: pendeta, guru, dosen, dokter, kepala distrik, rektor, jenderal,gubernur-wakil gubernur, anggota legislatif, walikota, bupati-wakilbupati, duta besar, dll.” (Mansoben, dkk, 2008 : 174).

4. Bahan Mulok Bahasa Biak

Sebagaimana telah disinggung di depan bahwa bahan-bahanyang dijadikan materi pelajaran mulok dalam BB, BM maupun BBl diTanah Papua tempo dulu ditulis oleh para misionaris setelah merekamelaksanakan proyek penelitian, penulisan dan penerbitan bukupelajaran mulok. Hal ini dilakukan dengan maksud agar materi ataubahan pelajaran mulok tersebut memudahkan PBM bagi para muridmaupun para pengajar (guru) pada saat itu. Para misionaris menyadarihal ini sebuah kiat untuk mempertahankan jati diri orang Papua di tanahyang amat kaya BD. Para misionaris tersebut, terutama F.J.S. vanHaselt dan I.S. Kijne mempelajari beberapa etnik yang mendiamiPapua bagian utara, dengan maksud agar kebudayaan dan lingkunganhidup masyarakat itu dijadikan bahan pelajaran mulok bagi para muriddengan tujuan mempertahankan jati diri, dan terus melestarikankearifan lokal yang tersimpan dalam keanekaragaman bahasa danbudaya orang Papua. Untuk itu, kebudayaan inti (culture core) orangPapua disarikan menjadi bahan pelajaran mulok bagi para murid(peserta didik) pada jenjang pendidikan dasar dan menengah di seluruhTanah Papua dengan pendekatan tematik. Jika mencermati aneka bahanpelajaran mulok dimaksud, maka kita temui tema-tema sebagai berikut:(1) tema lingkungan dalam pelajaran mulok BB, BM, maupun BBladalah: lingkungan keluarga, dan lingkungan rumah; (2) lingkunganalam: menjaga tanah, air, tumbuhan, binatang, dan bekerja di ladang(menanam & panen) secara bertahap dan berkesinambungan; (3) hobiatau kesenangan kerja (berladang, memelihara ternak), danketerampilan lainnya; (4) Sifat tolong-menolong; (5) kesehatan(memelihara kesehatan dan gizi); serta (6) tema kerja atau keterampilanhidup lainnya.

Beberapa dokumen atau bahan referensi pelajaran mulok BByang pernah ditulis oleh para misionaris terutama: Ottow (1862), vanHasselt J.L. (1868, 1876); Kern (1885), van Hasselt F.J.F. (1902, 1905,1936, 1947). Tulisan-tulisan tersebut, memuat catatan-catatan tentangBB, baik kosa kata maupun struktur. Bahan-bahan pelajaran khususyang terkait dengan muatan lokal BB, antara lain disusun oleh F.J.F.van Hasselt (1908) tentang Buku Bacaan Cerita Rakyat (Tall, Land,end Volkenkunde); I.S. Kijne (1950) tentang Surat Wasya (BukuBacaan Bahasa Biak jilid I, II dan III), Kafkofen ma Kakaik (PantunBalas-balasan dan Peribahasa); Kokor ma Kowasya (Membaca danBerhitung). Buku pelajaran mulok BB tersebut diselesaikan di SD kelasI – III berbarengan dengan BM dan dilanjutkan dengan BBl/BE di kelasIV – kelas VI dst.

Judul-judul buku pelajaran yang masih berkesan hingga saat ini,antara lain: Itu Dia jilid I–III, Kota Emas, Cenderawasih (ParadiseVogel), yang dikarang oleh Domine I.S. Kijne; Madjulah (Het Begin)oleh N.E. Bocve, dkk. Selain buku pelajaran tersebut di atas terdapatpula buku nyanyain muda-mudi, karya Domine I.S. Kijne yang sangatterkenal ialah Seruling Mas dan buku nyanyian khusus untuk anak-anakSekolah Minggu/SD yaitu Suara Gembira yang seluruh isinyamengagungkan Tuhan pencipta keindahan alam, kekayaan alam, dankeanekaragaman suku bangsa dan bahasa, serta para Mambri (pahlawanlegendaris) di Tanah Papua tempo dulu.

Sejumlah dokumentasi dan publikasi penting yang perlu jugadisinggung, antara lain: Kamus Bahasa Biak oleh Soeparno 1976;Namber in Biak oleh Hein Stein Hawer (1985); Fonologi Bahasa Biak1989, Morfologi Bahasa Biak 1991, Sintaksis Bahasa Biak 1994 danTata Bahasa Biak 2003; oleh Christ Fautngil & Frans Rumbrawer;serta Kamus Bahasa Biak A – K 1996; Kamus Bahasa Biak L – Z 1997oleh Frans Rumbrawer & Christ Fautngil. Selain hasil-hasil risettersebut, ada pula sejumlah penelitian dan tulisan yang sifatnyaterpisah-pisah untuk berbagai keperluan antara lain: skripsi danmakalah yang ditulis para mahasiswa dan dosen Jurusan PendidikanBahasa dan Seni (Bahasa Indonesia dan Bahasa Inggris) FakultasKeguruan dan Ilmu Pendidikan (FKIP) Universitas Negeri Cenderawasih.Ada juga bahan-bahan berbahasa Biak yang dipakai untukkeperluan khusus seperti buku nyanyian rohani, liturgi, Alkitab, bukunyanyian untuk keperluan praktis lainnya, dapat disebutkan di siniantara lain: GKI 1969, Mazmur ma Dow; Kapissa 1975, Songger veRok; LAI 1900, Alkitab Perjanjian Baru Berbahasa Biak; MuharamSyah 1975, Wawos ro Rasras; Depdikbud Propinsi Irian Jaya 1963,Ungkapan Tradisional Bahasa Biak dan Bahasa Tehit Daerah IrianJaya; RRI Biak 1980-an, Kabar ro Wos Biak; Sam Kapissa 1994,Eksistensi Wor Biak dan Upaya Pelestariannya; dan sejumlah tulisanlain tentang kebudayaan Biak yang relevan bagi pelajaran mulok BB,yang tidak disebutkan semuanya di sini.

5. Pengajar Bahasa Biak

Jika mencontohi strategi yang dilakukan para misionaris dalampenyiapan tenaga pengajar bagi pelajaran mulok bahasa dan sasteraBiak pada zaman lampau, maka perlu merencanakan kegiatan praktisdan tepat guna terutama guru kelas dan guru bantu yang direkrutkhusus dari masyarakat (para pemuda gereja atau jemaat) setelah paramisionaris menyiapkan kurikulum, silabus, dan bahan pelajaran dalambuku pelajaran khusus BB dan buku mulok BM dan BBl.

Rekruitmen yang paling cepat dan tepat dalam mengajarpelajaran mulok BB dan BM adalah tenaga muda orang asli Biak yangterseleksi dengan baik tentang moral, ketersediaan hati-nurani, iman,cukup ilmu dan dapat memahami pelayanan masyarakat di bidangpendidikan tanpa biaya yang mahal. Dengan modal dasar seperti contohyang disebutkan di atas dan jika dikaitkan dengan program pendidikanguru SD (PGSD dan lainnya) yang kini digalakkan secara besarbesaranoleh pemerintah di Indonesia, terkait dengan pencananganmuatan lokal dalam KTSP-Standar Isi 2006 saat ini, maka tidaklah sulituntuk memperoleh guru mulok bahasa Biak pada pendidikan dasar danmenengah di Kabupaten Biak-Numfor, tetapi juga kabupaten lainnya di
Tanah Papua. Asal pemerintah daerah mempunyai komitmen kerjayang jelas dan sungguh dalam perencanaan, pelaksanaan, pengevaluasiandan pengalokasian biaya yang jelas dan memadai dalam APBD.

6. Bagaimana Mengajar Bahasa Biak

Kalau kita ingin belajar tentang bagaimana proses dan carapraktis para misionaris menyiapkan (meneliti/menulis) dan mengajarkanpelajaran mulok BB tempo lalu, sebagaimana disebutkan di mukamaka tidaklah sulit dalam hal mengajarkan BB dan BD lainnya diTanah Papua saat ini. Hal yang pertama harus disiapkan adalah:membuat silabus yang sesuai dengan KTSP sebagai pedoman nasionaldalam penyusunan maupun mengajarkan bahan pelajaran mulokBD/BB di setiap satuan pendidikan sesuai dengan lingkungan parapeserta didik, kekhususan daerah, kebutuhan masyarakat, serta keunikanbudaya yang berprospek ekonomi bagi peserta didik dikemudian hari atau untuk kemaslahatan seluruh umat manusia.

Oleh karena itu, bagaimana guru mengajarkan pelajaran mulokbahasa Biak tidak jauh berbeda dengan cara, metode, maupun teknikmengajarkan bahasa Indonesia atau bahasa Inggris maupun matapelajaran terkait lainnya. Sebetulnya metode atau teknik mengajarkanbahasa nasional maupun bahasa asing dapat digunakan untukmengajarkan mulok bahasa Biak. Hanya saja semuanya ini berpulangpada nurani yang baik, dan kesungguhan kerja dari Pemerintah RI,(Depdiknas, Pusat Bahasa); Gubernur (Dinas Pendidikan Provinsi),Bupati (Dinas Pendidikan Kabupaten); Komite Sekolah dan komponenterkait serta para guru yang harus bekerja keras dalam menyiapkansilabus bahan pelajaran dan mengajarkan pelajaran mulok BB dengankreativitas yang tinggi sebagaimana guru sejati yang diharapkan Tuhan,masyarakat, bangsa, dalam wadah NKRI.

7. Penutup

7.1 Simpulan

Bahasa Biak (BB) adalah salah satu bahasa daerah (BD) yangpertama kali diteliti, ditulis dan diajarkan secara formal sebagaipelajaran muatan lokal (mulok) oleh para misionaris pada pendidikandasar dan menengah di Resort Biak-Numfor Tanah Papua. Orang Biakselalu meratapi dan merindukan pelajaran mulok BB tersebut hinggasaat ini. Oleh karena dimusnahkan dan tidak diperbolehkan untukdiajarkan lagi oleh pemerintah, karena konspirasi politik pada tahun1963 yang berlanjut sampai dengan Kurikulum Tingkat SatuanPendidikan (KTSP) yang kemungkinan dapat memberikan angin segardan harapan hidup bagi BB dan BD tertentu di Tanah Papua.

BB ditentukan oleh Zending Belanda sebagai pelajaran mulokBD berdasarkan fakta historis, akademis, dan dasar hukum yang kuat.Sebab itu, diharapkan kewenangan pemerintah Indonesia (gubernur,bupati/walikota) untuk segera membina dan mengembangkannyadengan mengintegrasikan tujuan dan filosofi mulok dulu dengansekarang. Untuk itu, pemerintah daerah perlu menyiapkan buku-bukubahan pelajaran mulok BB, sekaligus melatih para pengajar BB/BD,serta bagaimana cara mengajarkan mulok dimaksud sesuai denganpanduan KTSP dan standar isi 2006, agar tercapai tujuan pendidikannasional yang diharapkan di Indonesia.

7.2 Rekomendasi

Saran yang perlu diperhatikan pemerintah (Departeman PendidikanNasional, termasuk Pusat Bahasa) terkait dengan pemberdayaanpelajaran mulok BD demi kelestarian keanekaragaman BD danbudaya bangsa Indonesia, maka perlu melaksanakan rekomendasiberikut:
(1) Pemerintah/DPR RI mengamandemen UUD RI Tahun 1945 Pasal36, menjadi dua ayat, yakni: Ayat (1) Bahasa Negara ialah bahasaIndonesia; Ayat (2) Keanekaragaman bahasa daerah dibina dandikembangkan sebagai aset pemasok kosakata bahasa nasionalIndonesia.
(2) Pemerintah daerah (pemda) segera menyusun peraturan daerahtentang pembinaan dan pengembangan bahasa daerah masingmasingsesuai kebutuhan daerah demi kelestarian bahasa, budayadan kearifan lokal.
(3) Pemda meng-APBD-kan penelitian, penulisan, dan penerbitanbuku bahan pelajaran mulok BD bagi kebutuhan pendidikan dasardan menengah di kabupaten/kota sesuai dengan kebutuhan masingmasingdaerah;
(4) Pemda (Dinas Pendidikan dan dinas terkait) bekerja sama denganKomite Sekolah, guru-guru, para ahli di perguruan tinggi, maupunlembaga pemerintah dan swasta untuk menyusun bahan pelajaranmulok BD sesuai KTSP dan standar isi;
(5) Khususnya Pemda Provinsi Papua dan atau Pemda Biak-Numfordiharapkan menghidupkan kembali bahan pelajaran mulok bahasaBiak sesuai dengan kerangka dasar dan struktur kurikulum yangmenjadi pedoman penyusunan KTSP dan standar isi 2006;
(6) Pemda Biak-Numfor dan dinas terkait diharapkan kreativitasnyadalam ihwal penyiapan guru (pengajar) maupun metodepengajaran mulok BB pada pendidikan dasar dan menengah diKabupaten Biak-Numfor.

DAFTAR PUSTAKA

Alwi, Hasan, dkk. (Ed). 2000. Bahasa Indonesia dalam EraGlobalisasi. Jakarta: Pusat Bahasa.Bocve, N.E., dkk. 1958. Het Begin Taalboek II. J.B. WoltersGroningen.Depdikbud. 1986. Ungkapan Tradisional Bahasa Biak-Numfor danTehit Daerah Irian Jaya. Jayapura: Kanwil Propinsi Papua.Depdiknas. 2006. Kumpulan Permendiknas tentang Standar NasionalPendidikan dan Panduan KTSP. Jakarta: Dirjen ManajemenPendidikan Dasar dan Menengah.

Fautngil, Christ dan Frans Rumbrawer. 1988. Fonologi Bahasa Biak.Laporan Penelitian. Jayapura: Proyek Penelitian Bhasa danSastera Indonesia dan Derah Pusat Pembinaan danPengembangan Bahasa, Kanwil Depdikbud Prpinsi Irian Jaya.

Fautngil, Christ dan Frans Rumbrawer. 1991. Morfologi Bahasa Biak.Laporan Penelitian. Jayapura: Proyek Penelitian Bhasa danSastera Indonesia dan Derah Pusat Pembinaan danPengembangan Bahasa, Kanwil Depdikbud Propinsi IrianJaya..

Fautngil, Christ dan Frans Rumbrawer. 1994. Sintaksis Bahasa Biak.Jakarta: Pusat Pembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Fautngil, Christ dan Frans Rumbrawer. 2003. Tata Bahasa Biak.Jakarta: Yayasan Servas Mario.

Hasselt, F.J.F. van 1908. Bijdragen tot de Taal, Land, En Volkenkundevan Nederlandsch Indie s’-Gravenhage: Martinus Nijhoff.Hasselt, J.L. van 1868. Allereerste Beginselen der Papoesch-Mafoorsche tall. Utrecht.

Hasselt, J.L. van 1876. Beknopte Spraakkunst der Noemforsch tall.Utrecht.

Hasselt, J.L. van. 1876/1873. Hollandsch Noemforsch en Noemforsch-Hollandsch Woordenboek. Utrecht.

Hasselt, J.L. van and F.J.F. van Hasselt. 1947. NoemforschWoordenboek. Amsterdam: de Bussy.

Kamma, F.C. 1994. Ajaib di Mata Kita. Jilid III. Masalah Komunikasiantar Timur Barat Dilihat dari Sudut Pengalaman SelamaSeabad Pekabaran Injil di Irian Jaya. Jakarta: BPK GunungMulia.


Kapissa, Sam. 1975. Songger be Rok. Jayapura: Group Manyouri

Kapissa, Sam. 1994. Eksistensi Wor Biak dan Upaya Pelestariannya.Jayapura: Jurusan Antropologi FISIP Uncen.

Kern, H.1885. Over de Verhouding van het Noemforsch tot de Maleis-Polynesische talen. Verspreide Geschriften.

Kijne, Izaak Samuel. 1950. Surat Wasja I & II, Kitab Batjaan BahasaBiak. Djakarta: J.B. Wolters Groningen.

Kijne, Izaak Samuel. 1952. Paradise Vogel. Kitab Batjaan BahasaBelanda. Djakarta: J.B. Wolters Groningen.


Mampioper, Arnold. 1976. Mitologi dan Pengharapan MasyarakatBiak-Numfor. Jayapura: STT GKI I.S. Kijne.

Mampioper, Arnold. 1986. Sistem Pemerintahan Tradisional SukuBiak dan Catatan Perkembangan Umum Pemerintah DaerahIrian Jaya samapai dengan UU Nomor 5 Tahun 1979.Jayapura: Yayasan Bhakti Cenderawasih dan Pusat Studi IrianJaya.

Mansoben, J. R. dkk. 2008. Sketsa Perjalanan Injil dari Maudori.Supiori: CV Rwambonina.

Mulyasa, E. 2007. Kurikulum Tingkat Satuan Pendidikan. SuatuPanduan Praktis. Bandung: PT Remaja Rosda Karya.

Muhaimen, dkk. 2008. Pengembangan Model Kurikulum TingkatSatuan Pendidikan (KTSP) pada Sekolah dan Madrasah.Jakarta: PT Raja Grafindo.

Muharamsyah. 1975. Wawos ro Ras-ras Biak. Kowilhan IV MalukuIrian Jaya. Biak: Kowilhan.

Ottow, W. 1862. Woordenlijst dre te Doreh en Omstreken GesprokenWordende Myfoorsche (Noemfoors, Mafoors, Numfoorrs etc.)Tall. Nieuw-Guinea. Amsterdam: Fred Muller.

Rumbrawer, Frans. 1986. Interferensi Frasa Bahasa Biak terhadapBahasa Indonesia Tulis Siswa Kelas II SMP Negeri KoremBiak Utara. Skripsi Sarjana Pendidikan. Bandung: JurusanPendidikan Bahasa dan Sastera Indonesia IKIP Bandung.

Rumbrawer, Frans & Christ Fautngil. 1995/1996. Kamus BahasaIndonesia-Biak A—K. Laporan Penelitian. Proyek PenelitianBahasa dan Sastera Indonesia. Pusat Pembinaan danPengembangan Bahasa. Jayapura: Kanwil Depdikbud.

Rumbrawer, Frans & Christ Fautngil. 1996/1997. Kamus BahasaIndonesia-Biak L—Z. Laporan Penelitian. Proyek PenelitianBahasa dan Sastera Indonesia. Pusat Pembinaan & PengembBahasa. Jayapura: Kanwil Depdikbud.

Rumbrawer, Frans. 1997. Menggali Potensi Cerita Rakyat sertaMemberdayakan SDM Irian Melalui Perfileman Nasional.Makalah Disampaikan pada Pekan Apresiasi dan Diskusi FilmNasional 1997. Kerja Sama Uncen dengan Dirjen PerfilemanNasional Deppen RI. Jayapura: Uncen.

Rumbrawer, Frans. 2000. Penelitian Bahasa Daerah di ProvinsiPapua. Makalah Disampaikan pada Konfrensi Bahasa Daerahdi Jakarta, 6 – 8 November 2000. Jakarta: Pusat Bahasa.

Rumbrawer, Frans. 2001. Mengaktifkan Pelajaran Muatan LokalBahasa dan Sastera Lisan Biak sebagai Upaya MemperkuatJati Diri Etnik Biak. Makalah Disampaikan pada Seminar danLokakarya Pengembangan Kebudayaan dan PariwisataKabupaten Biak-Numfor, di Biak, 12 – 14 Agustus 2001.

Rumbrawer, Frans. 2007.Orang Papua Meratapi KetanlestarianKeanekaragaman Bahasa Daerah di Tanah Papua. MakalahDisampaikan pada Kongres Bahasa Daerah Internasional diAmbon, 6 – 8 Agustus 2007.

RRI Biak. 1980-an. Kabar ro Wos Byak. Kumpulan Teks SiaranBahasa Biak. Biak: Bagian Siaran RRI Biak.

Silzer, Piter & Helja Heiikenen Clouse. 1991. Index of Irian JayaLanguages.
Second Edition. A Special Publocation of Irian.Buletin of Irian. Jayapura: SIL.

Soeparno. 1975. Kamus Bahasa Biak-Indonesia. Jakarta: PusatPembinaan dan Pengembangan Bahasa.

Steinhawer, Hein. 1985. Number in Biak. Countervidence Two AllegedLanguage Universals Bijragen Tot de Taal-Land EnFolkenkunde.

Tim Pustaka Yustisia. 2007. Panduan Lengkap KTSP. Yogyakarta:Pustaka Yustisia.


Frans Rumbrawer

Makalah ini disampaikan pada Kongres Internasional IX Bahasa Indonesia di Jakarta, 28 Oktober – 1 November 2008.

DIarsipkan di bawah: Pengajaran Bahasa dan Sastra Tagged: Pengajaran

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar